Gegap gempita bergelora di sudut SMA Pasundan 2 Bandung, konon katanya silaturahmi keluarga besar PB. Paguyuban Pasundan dengan Keluarga besar SMP, SMA, Pasundan se Kota Bandung, sungguh sebuah hajatan yang sangat baik guna mempererat tali silaturahim keluarga besar Pasundan. Di dalamnya di pertunjukan berbagai refertoar karya seni tradisi khas Jawa Barat (Sunda), sungguh memukau suguhan-suguhan kesenian tadi, lekukan tarian mengisi suasana akrab, hentakan irama musik ketuk tilu dari SMA Pasundan 8, lantunan nada dan suara indah angklung bergema seraya membius rasa estetika berkesenian para tetamu yang hadir, denting dawai-dawai kacapi siswa SMA Pasundan 5 dipadu merdunya para penyaji suara dari siswa SMA Pasundan 5 dan SMP Pasundan 12 Bandung melengkapi refertora seni Sunda saat itu.
Seandainya silaturahmi ini rutin dilakukan dan dijadikan kebutuhan untuk semua keluarga besar dan kelompok atau institusi yang ada di Jawa Barat dan di Indonesia pada umumnya ini niscaya akan menghasilkan sebuah ikatan bathin yang tidak akan tersurutkan dan kokoh tak akan terkoyak, yakinlah bangsa ini damai sejahtera merata dimana-mana. Tak adalagi perpecahan satu sama lainnya perpecahan antar etnik, perpecahan antar daerah, perpecahan antar suku, perpecahan antar keyakinan, apalagi perpecahan dalam sebuah institusi tertentu ang mengakibatkan kehancuran yang tak terelakan. Indah rasanya jika perdamaian ada di mana-mana menghiasi indahnya bangsa dan dunia ini.
Sayang-nya masih banyak oknum yang tega memanfaatkan ajang silaturahmi untuk kepentingan kelompok tertentu atau individu tertentu agar si kecil merasa terangkat oleh olok-olok dan janji-janji palsu, merasa terperhatikan hanya dengan kata-kata mesra sesaat, terbius dengan sanjungan palsu, lalu esok dilupakan jasa dan keberadaanya. Sungguh malang nasib si kecil, tapi kami yakin ajang silaturahmi yang dilaksanakan pada hari Senin, Tanggal 2 Februari 2009 di SMA Pasundan 2 Bandung ini adalah semata bertujuan untuk memperjuangkan nasib etnik Sunda yang konon kian tersingkir dan tidak diperhitungkan di ajang Nasional. Akan tetapi bukan berarti membela atau memperjuangkan etnik Sunda semata untuk menduduki suatu jabatan tertentu di pusat pemerintahan ataupun di dewan perwakilan rakyat tetapi untuk kepentingan seluruh bangsa ini agar menyadari kontribusi etnik ini sangat berarti untuk kemajuan bangsa dan Negara tercinta, sehingga tercipta perdamaian abadi dan keadilan sosial yang mengakibatkan kesejahteraan yang hakiki dan merata bagi seluruh Bangsa. Paling tidak demikian secercah harapan yang tertangkap oleh awam penulis yang juga sebagai salah satu tetamu yang hadir pada kegiatan tersebut.
Akhirnya sebagai orang yang ingin terwakili segala bentuk aspirasinya oleh orang-orang pintar terpercaya yang berkesempatan untuk menyuarakan kata hati rakyat jelata yang papa dan tak bisa apa-apa di forum yang teramat megah dan sensasional itu, berharap bisa menikmati hasil dukungan dalam sebuah kancah pemilihan wakil rakyat dan pemilu 2009. Arifasi para pembaca untuk tidak menilai negatif atas isi bacaan dan esensinya kami haturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
20090202
20090126
Pemilahan Genre Musik
Buat kawan-kawan yang suka musik dengan estetikanya sebaiknya tidak memilah genre musik yang menjadi fanatisme selera sesaat kawan-kawan bisa menikmati semua jenis musik dengan tanpa menghiraukan genre musik tertentu... Sadarlah bahwa membuat sebuah komposisi itu tak semudah membalik telapan tangan makanya cintailah semua genre musik yang hadir di dunia ini sebagai suatu karya estetis yang besar.
Gwe yakin kita sama-sama awam tentang batasan-batasan genre musik tertentu, sebagai contoh apa batasan lagu pop, pop rock clasic, pop alternatif, alternatif rock, dsb. maksud gwe batasannya nyaris tidak signifikan antara genre yang satu dengan lainnya, yang terpenting adalah bagaimana sebuah karya itu bisa dihormati dan dinikmati baik segi estetikanya maupun fungsinya. Pemilah genre musik yang ada ternyata hanyalah sebuah egoisme emosional yang kurang berasalan, karena merasa masih muda, merasa sudah tua, merasa sedang "in", merasa sedang era-nya, merasa paling disuka, merasa paling mengena, merasa paling gwe banget, dst.
Sungguh bukan alasan yang salah juga akan tetapi alasan yang tidak bertanggungjawab dan alasan sesaat yang tidak berkata tapi tidak berpikir jauh kedepan dan mengenang masa yang sudah lampau. Tidak bijak giut loh!! So, sukailah, cintailah, semua genre musik yang hadir di tengah-tengah kita suaikan semuanya dengan kebutuhan pasti asik-asik aja tuh bermusikria, apalagi hanya sebagai penikmat yang tidak pernah berpikir rumitnya menyusun sebuah komposisi agar dapat dinikmati massa-nya. Celakanya para penjaja seni hanya berpikir pasar tanpa memikirkan kualitas karya secara estetis akhirnya pada suatu periode tertentu bergelimpangan karya dengan kualitas sesaat, yang kemudian berserakan bangkai karya dimana-mana.
Eit stop jangan emosi dulu kalau mau membuat opini tentang tulisan ini atau apapun...Ayooo kita mulai menulis, berkarya dengan seperti ini kan lumayan melatih keberanian untuk menulis. Tong sieun dicarekan batur, siun mah oleh kelakuan kita yang tak bermartabat sehingga menjadikan Tuhan kita murka maka neraka menganga menanti hadirnya dirimu disana....
Gwe yakin kita sama-sama awam tentang batasan-batasan genre musik tertentu, sebagai contoh apa batasan lagu pop, pop rock clasic, pop alternatif, alternatif rock, dsb. maksud gwe batasannya nyaris tidak signifikan antara genre yang satu dengan lainnya, yang terpenting adalah bagaimana sebuah karya itu bisa dihormati dan dinikmati baik segi estetikanya maupun fungsinya. Pemilah genre musik yang ada ternyata hanyalah sebuah egoisme emosional yang kurang berasalan, karena merasa masih muda, merasa sudah tua, merasa sedang "in", merasa sedang era-nya, merasa paling disuka, merasa paling mengena, merasa paling gwe banget, dst.
Sungguh bukan alasan yang salah juga akan tetapi alasan yang tidak bertanggungjawab dan alasan sesaat yang tidak berkata tapi tidak berpikir jauh kedepan dan mengenang masa yang sudah lampau. Tidak bijak giut loh!! So, sukailah, cintailah, semua genre musik yang hadir di tengah-tengah kita suaikan semuanya dengan kebutuhan pasti asik-asik aja tuh bermusikria, apalagi hanya sebagai penikmat yang tidak pernah berpikir rumitnya menyusun sebuah komposisi agar dapat dinikmati massa-nya. Celakanya para penjaja seni hanya berpikir pasar tanpa memikirkan kualitas karya secara estetis akhirnya pada suatu periode tertentu bergelimpangan karya dengan kualitas sesaat, yang kemudian berserakan bangkai karya dimana-mana.
Eit stop jangan emosi dulu kalau mau membuat opini tentang tulisan ini atau apapun...Ayooo kita mulai menulis, berkarya dengan seperti ini kan lumayan melatih keberanian untuk menulis. Tong sieun dicarekan batur, siun mah oleh kelakuan kita yang tak bermartabat sehingga menjadikan Tuhan kita murka maka neraka menganga menanti hadirnya dirimu disana....
20090121
Festival Band antar SMA di PT. PLN (Persero)
Sejurus kemudian anak-anak SMA Pasundan 5 Bandung yang tergabung dalam Ekskul Seni Musik Barat bimbingan Mr. Ridwan Sigit mengasah diri mengenjot prestasi dengan mengikuti Festival Band yang diselenggarakan oleh PT. PLN (Persero) Kota Bandung. Dengan membawakan lagu wajib "Karatagan" PLN (begitulah kira-kira) serta membawakan jingle dengan durasi komposisi 1 menit dan harus diciptakan setiap peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. System Audisi on the stage-pun membuat seluruh peserta merasa lebih dihargai sehingga berusaha keras untuk menampilkan karya dan refertoar karya terbaik.
Demikian halnya dengan Band SMA Pasundan 5 Bandung, dengan semangat dan perjuangan yang tiada kenal lelah siang malam selama kurun waktu 2 s/d 3 hari mengasah kemampuannya di studio 6 Jl. Bukit Indah I Blok Q No. 5-6 yang merupakan Studio Musik Pribadi Mr. Ridwan Sigit. Semua berjalan dengan baik, semua tidak ada yang salah, komposisi musik yang diwajibkan oleh panitia untuk menjadi tontonan publik dan penilaian team juri telah digubah sesuai kemampuan dan kreativitas para siswa yang di gawangi Dicky Aceng pada Bass, Adhi pada lead Guitar dan Vocal, Lukman pada rhytm, Dani Z pada Drum, Verry Wado pada Keyboard. Mereka juga berhasil menggubah sebuah karya dengan durasi satu menit dalam jingle PLN dengan syair dan lagu ciptaan merekan serta sedikit masukan dari sang pembina Eskul, jadilah sebuah komposisi yang cukup menarik dan elegan untuk dinikmati.
Refertoar-pun dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang diagendakan panitia (PT. PLN), meskipun seperti biasa mestinya dimuali pukul 08.00 kenyataanya pukul 10.00 baru dimulai, tapi itu biasa bagi mereka alhasil Band SMA Pasundan 5 Bandung tercinta yang seharusnya manggung pukul 10.30 molor hingga pukul 15-an disamping ngaretnya waktu pelaksanaan juga si panjang tungkai alias hujan turun dengan sangat deras diiringi gelegar petir yang bertali-tali seolah tak ingin kalah dengan gelegar suara sound system di atas panggung gelar PLN yang cukup refresentatif untuk ukuran sebuah acara audisi yang menurut pengamatan penulis nyaris seperti pesta sesungguhnya itu. Hal lain yang membuat seluruh peserta tetap semangat meski hujan deras mengguyur seolah tak mau berhenti adalah suguhan konsumsi yang cukup baik dan mengerti selera anak seusia para peserta festival, sayangnya tidak diikiuti oleh penampilan beberapa yang katanya bintang tamu pengisis jeda yang terkesan agak biasa-biasa aja tuh...
Meski tak berhasil meraih prestasi terbaik bagi Grup Band SMA Pasundan 5 Bandung, tapi kepuasan dengan beberapa hal terpenuhi ya itu tadi konsumsi dan fasilitas pendukung yang ada cukup memberi kesan puas. Selidik punya selidik kenapa kami dengan persiapan yang menyakinkan tadi ternyata tidak juga meraih posisi untuk bisa menantang grup Band lain yang sedikit lebih baik di atas kami? ternyata mental kami belum sepenuhnya siap untuk manggung, terbukti masih saja ada kesalahan-kesalahan mendasar yang tidak seharusnya terjadi tapi terjadi juga, diantaranya teknik penguasaan panggung yang sama sekali tidak dilakukan, teknik dasar penguasaan panggung agar tidak demam panggung salah duanya antara lain seluruh pemain seyogyanya mengenali alat musik yang akan dimainkannya kemudian kuasai sepenuhnya jangan sampai waditra menguasai kita caranya cobalah memainkian alat musik tersebut dengan perlahan. Contohnya untuk seorang pemain Drum yang pertama kali harus dilakukan adalah peregangan otot, periksa seluruh custom drum dengan cara melihat, memegang, sedikit dielus-elus (tentu dengan tidak berlebihan), lalu mencoba memainkannya dengan khas kita, pukuli seluruh drum custom dari mulai bass drum, snar drum, semua tom-tom, dan cymbal akan tetapi dengan pelan dan penuh perasaan sampai merasa enjoy gitu loh... yang terakhir adalah berbicara dengan sangat perlahan katakan "Kamu (Drum) dan aku siap bekerjasama dan kita saling percaya", lalu tataplah kawan kita yang lain satu persatu dengan penuh percaya diri dan saling mempercayai satu sama lain seraya menyatukan visi yang sehati dan sejiwa dalam pikiran kita bahwa kita yakin dengan seyakin-yakinnya sudah siap untuk berlaga. Hal tersebut nampak panjang lebar dalam tulisan tetapi dalam kenyataanya hanya membutuhkan waktu dalam hitungan 1 atau 2 menit-pun belum tentu tetapi sangat efektif untuk menepis ragu menghadang asa tak percaya, sekedip mata mampu mengusir demam berlebih, paling tidak itu pengalaman penulis kala manggung (dulu waktu masih mencari jati diri dan melepas dahaga untuk bergaya).
Ketidakberhasilan (bukan kegagalan) Band SMA Pasundan 5 Bandung untuk berlaga pada ajang yang lebih bergenngsi bukan merupakan punishment bagi kami melainkan kami jadikan pengalaman untuk memicu kami dalam berkarya, mencoba dan terus mencoba itulah hikmah pengalaman tiada tara yang ingin kami bawa sepanjang masa. Pepatah barat mengatakan Experience is a good teacher (Pengalaman adalah guru yang terbaik) itulah bekal kami untuk melangkah lebih hari ini baik dari hari kemarin, hari ini harus lebih baik daripada hari ini. Tidak lupa kami atas nama Grup Band SMA Pasundan 5 menghaturkan terimakasih yang tak terhingga pada teman-teman di sekolah yang telah mendukung kami (Ujang selaku ketua OSIS beserta jajaran pengurus lainnya, PMR, Pramuka, Theater) dan seluruh civitas akademika SMA Pasundan 5 Bandung yang telah mandukung kami dengan sepenuh hati, perjuangan kita belum selesai jika kami belum berhasil esok atau lusa kita akan berprestasi dalam bidang-bidang kita masing-masing. Sukses selalu SMA Pasundan 5 Bandung.
Demikian halnya dengan Band SMA Pasundan 5 Bandung, dengan semangat dan perjuangan yang tiada kenal lelah siang malam selama kurun waktu 2 s/d 3 hari mengasah kemampuannya di studio 6 Jl. Bukit Indah I Blok Q No. 5-6 yang merupakan Studio Musik Pribadi Mr. Ridwan Sigit. Semua berjalan dengan baik, semua tidak ada yang salah, komposisi musik yang diwajibkan oleh panitia untuk menjadi tontonan publik dan penilaian team juri telah digubah sesuai kemampuan dan kreativitas para siswa yang di gawangi Dicky Aceng pada Bass, Adhi pada lead Guitar dan Vocal, Lukman pada rhytm, Dani Z pada Drum, Verry Wado pada Keyboard. Mereka juga berhasil menggubah sebuah karya dengan durasi satu menit dalam jingle PLN dengan syair dan lagu ciptaan merekan serta sedikit masukan dari sang pembina Eskul, jadilah sebuah komposisi yang cukup menarik dan elegan untuk dinikmati.
Refertoar-pun dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang diagendakan panitia (PT. PLN), meskipun seperti biasa mestinya dimuali pukul 08.00 kenyataanya pukul 10.00 baru dimulai, tapi itu biasa bagi mereka alhasil Band SMA Pasundan 5 Bandung tercinta yang seharusnya manggung pukul 10.30 molor hingga pukul 15-an disamping ngaretnya waktu pelaksanaan juga si panjang tungkai alias hujan turun dengan sangat deras diiringi gelegar petir yang bertali-tali seolah tak ingin kalah dengan gelegar suara sound system di atas panggung gelar PLN yang cukup refresentatif untuk ukuran sebuah acara audisi yang menurut pengamatan penulis nyaris seperti pesta sesungguhnya itu. Hal lain yang membuat seluruh peserta tetap semangat meski hujan deras mengguyur seolah tak mau berhenti adalah suguhan konsumsi yang cukup baik dan mengerti selera anak seusia para peserta festival, sayangnya tidak diikiuti oleh penampilan beberapa yang katanya bintang tamu pengisis jeda yang terkesan agak biasa-biasa aja tuh...
Meski tak berhasil meraih prestasi terbaik bagi Grup Band SMA Pasundan 5 Bandung, tapi kepuasan dengan beberapa hal terpenuhi ya itu tadi konsumsi dan fasilitas pendukung yang ada cukup memberi kesan puas. Selidik punya selidik kenapa kami dengan persiapan yang menyakinkan tadi ternyata tidak juga meraih posisi untuk bisa menantang grup Band lain yang sedikit lebih baik di atas kami? ternyata mental kami belum sepenuhnya siap untuk manggung, terbukti masih saja ada kesalahan-kesalahan mendasar yang tidak seharusnya terjadi tapi terjadi juga, diantaranya teknik penguasaan panggung yang sama sekali tidak dilakukan, teknik dasar penguasaan panggung agar tidak demam panggung salah duanya antara lain seluruh pemain seyogyanya mengenali alat musik yang akan dimainkannya kemudian kuasai sepenuhnya jangan sampai waditra menguasai kita caranya cobalah memainkian alat musik tersebut dengan perlahan. Contohnya untuk seorang pemain Drum yang pertama kali harus dilakukan adalah peregangan otot, periksa seluruh custom drum dengan cara melihat, memegang, sedikit dielus-elus (tentu dengan tidak berlebihan), lalu mencoba memainkannya dengan khas kita, pukuli seluruh drum custom dari mulai bass drum, snar drum, semua tom-tom, dan cymbal akan tetapi dengan pelan dan penuh perasaan sampai merasa enjoy gitu loh... yang terakhir adalah berbicara dengan sangat perlahan katakan "Kamu (Drum) dan aku siap bekerjasama dan kita saling percaya", lalu tataplah kawan kita yang lain satu persatu dengan penuh percaya diri dan saling mempercayai satu sama lain seraya menyatukan visi yang sehati dan sejiwa dalam pikiran kita bahwa kita yakin dengan seyakin-yakinnya sudah siap untuk berlaga. Hal tersebut nampak panjang lebar dalam tulisan tetapi dalam kenyataanya hanya membutuhkan waktu dalam hitungan 1 atau 2 menit-pun belum tentu tetapi sangat efektif untuk menepis ragu menghadang asa tak percaya, sekedip mata mampu mengusir demam berlebih, paling tidak itu pengalaman penulis kala manggung (dulu waktu masih mencari jati diri dan melepas dahaga untuk bergaya).
Ketidakberhasilan (bukan kegagalan) Band SMA Pasundan 5 Bandung untuk berlaga pada ajang yang lebih bergenngsi bukan merupakan punishment bagi kami melainkan kami jadikan pengalaman untuk memicu kami dalam berkarya, mencoba dan terus mencoba itulah hikmah pengalaman tiada tara yang ingin kami bawa sepanjang masa. Pepatah barat mengatakan Experience is a good teacher (Pengalaman adalah guru yang terbaik) itulah bekal kami untuk melangkah lebih hari ini baik dari hari kemarin, hari ini harus lebih baik daripada hari ini. Tidak lupa kami atas nama Grup Band SMA Pasundan 5 menghaturkan terimakasih yang tak terhingga pada teman-teman di sekolah yang telah mendukung kami (Ujang selaku ketua OSIS beserta jajaran pengurus lainnya, PMR, Pramuka, Theater) dan seluruh civitas akademika SMA Pasundan 5 Bandung yang telah mandukung kami dengan sepenuh hati, perjuangan kita belum selesai jika kami belum berhasil esok atau lusa kita akan berprestasi dalam bidang-bidang kita masing-masing. Sukses selalu SMA Pasundan 5 Bandung.
20090101
sma pasundan 5 dibagi raport
Pelaksanaan ULUM telah dilaksanakan beberapa hari yang lalu...namun beberapa siswa masih kelimpungan mencari beberapa guru mata pelajaran. Usut punya usut mereka meminta perbaikan (her) untuk nilai mata pelajaran dimaksud, tentu saja berbagai alasan yang dikemukakan para siswa mulai dari sakit sehingga tidak dapat mengikuti ULUM secara bersama-sama sampai dengan tidak bisa mengikuti ULUM sesuai jadwal yang ditetapkan karena belum bisa melunasi kewasjiban yang telah disetujui bersama antara pihak sekolah dan sebagian besar orangtua atau wali siswa yang ada.
Sebagai salah seorang guru saya merasa hal semacam ini tidak perlu terjadi jika komunikasi dua arah antara pihak sekolah dan para orangtua siswa berjalan dengan baik. Karena segala sesuatu kan bisa dibicarakan dengan baik, tapi apa yang terjadi? Wah saya tidak tau...tuh... yang penting bagi saya blog ini tetap eksis, sehingga ada komunikasi antara saya dan beberapa pembaca yang memanfaatkan blog ini.
Tapi teu kitu ketang sebegai civitas akademika SMA Pasundan 5 saya sangat berharap hal semacam ini tidak terus berlanjut sehingga tidak ada kemandegan program bagi sekolah karena alasan keuangan dan tidak ada kemandegan belajar bagi para siswa karena alasan yang sama...setujuuuuuu........tapi tetep harus ada progres untuk sekolah besar kecilnya yaa... bisa dibicarakan kale...hehehehe...
Sebagai salah seorang guru saya merasa hal semacam ini tidak perlu terjadi jika komunikasi dua arah antara pihak sekolah dan para orangtua siswa berjalan dengan baik. Karena segala sesuatu kan bisa dibicarakan dengan baik, tapi apa yang terjadi? Wah saya tidak tau...tuh... yang penting bagi saya blog ini tetap eksis, sehingga ada komunikasi antara saya dan beberapa pembaca yang memanfaatkan blog ini.
Tapi teu kitu ketang sebegai civitas akademika SMA Pasundan 5 saya sangat berharap hal semacam ini tidak terus berlanjut sehingga tidak ada kemandegan program bagi sekolah karena alasan keuangan dan tidak ada kemandegan belajar bagi para siswa karena alasan yang sama...setujuuuuuu........tapi tetep harus ada progres untuk sekolah besar kecilnya yaa... bisa dibicarakan kale...hehehehe...
20081027
soempah pemuda
28 oktober 2008
SOEMPAH PEMOEDA
Menilik perjalanan berbangsa, bernegara para pemuda Indonesia tempo doeloe demikian dasyat, hingga tercetus kata soempah pemoeda yang mendunia. Dilihat dari tatanan kata-nya soempah (sumpah) yang diucapkan dan dijanjikan adalah mengandung makna mendalam nan tidak main-main dalam berkata dan berkarya untuk bangsa Indonesia tercinta. Istuning seluruh jiwa raga hanya untuk negeri tercinta, tiada kata perpecahan satu sama lain, bersatu adalah tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sumpah pemuda juga merupakan wadah bersatunya jiwa muda yang ksatria, pemberani demi menjunjung tinggi martabat bangsa dengan mempertaruhkan jiwa raga untuk bangsa. Pemuda tempo doeloe demikian mencintai dirinya sendiri akan tetapi lebih mencintai bangsanya, tidak ingin bangsanya dikoyak "ketidaksenonohan" siapapun di muka pertiwi ini.
Lalu...bagaimana sikap dan sifat para pemuda harapan bangsa era "modern" ini terhadap keadaan dan keberadaan bangsanya? Sesuatu untuk bangsa yang mana dahulu kala sangat diperjuangkan oleh pemuda bangsa Indonesia yang kita banggakan! Memang esensi sumpah pemuda saat ini dan waktu itu (ketika aku seperti pemuda sekarang ini) belum pernah aku sadari dan kuketahui...maksudku mengapa aku tidak sehebat para pemuda jaman dahulu yang rela berkorban untuk bangsa ini, ternyata sama saja aku dan remaja yang mewakili pemuda harapan bangsa ini tidak pernah berbuat banyak untuk bangsa tercinta ini. Lalu...mengapa begitu? Apa karena kebodohan kita atau guru-guru kita tidak pernah mengajarkan rela berkorban untuk bangsa? Bukan sok tahu tapi masih banyak guru-guru yang sudah menjadi pegawai negeri sipil di negeri ini yang bekerja asal-asalan; asal datang, asal ngabsen, asal ngajar, asal marah, asal gajian, asal makan, asal bisa ketawa...dasar gila kali ya...tapi tentu saja tidak ada di sekolahku mereka hanya ada di neraka jahanam!!!
Lalu...mengapa guru-guru honorer sepertinya mati-matian mengabdi, tiada lelah berkerja, mengajar di sekolah sana, di sekolah sini, mengajar eskul itu, eskul ini, jual lks itu, lks ini, buku itu, buku ini, eh...weleh...weleh... dasar bodoh ternyata gaji guru honorer hanya cukup untuk beli isi ulang telepon cellular, lalu...ongkos bolak-balik naik angkot bagaimana? makan siang bagaimana? beli rokok dan kopi, bayar utang biaya hidup sehari-hari? uang jajan anak istri? bayar kontrakan rumah? belum lagi hobby maen burung dan memancing ikan sambil berjudi!! Ternyata berat perjalanan hidup mereka...dan aku juga termasuk didalamnya kali?
Lalu...mengapa tidak seperti pemuda jaman dahuulu itu? Nah itu dia yang tidak kuketahui mengapa! Gaya hidup yang individualistis mungkin penyebabnya! Kemiskinan mungkin penyebabnya! Kebodohan mungkin penyebabnya! Ya...kalau sudah individualististis, miskin, bodoh...masa sih? Kan yang kuceritakan adalah guru! bukankah mereka berpendidikan tinggi serendah-rendahnya D1, banyak yang S1, S2, bahkan ada yang S3! Lalu...mengapa begitu? Dasar bodoh ternyata mereka itu GOBLOK!! Tapi tidak ada di sekolahku, mereka hanya ada di neraka jahannam...huh mengerikan!
Kalau begitu siapa yang akan meneruskan perjuangan para pemoeda harapan bangsa tempo doeloe itu? Dasar bodoh aku tidak pernah tahu.....
SOEMPAH PEMOEDA
Menilik perjalanan berbangsa, bernegara para pemuda Indonesia tempo doeloe demikian dasyat, hingga tercetus kata soempah pemoeda yang mendunia. Dilihat dari tatanan kata-nya soempah (sumpah) yang diucapkan dan dijanjikan adalah mengandung makna mendalam nan tidak main-main dalam berkata dan berkarya untuk bangsa Indonesia tercinta. Istuning seluruh jiwa raga hanya untuk negeri tercinta, tiada kata perpecahan satu sama lain, bersatu adalah tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sumpah pemuda juga merupakan wadah bersatunya jiwa muda yang ksatria, pemberani demi menjunjung tinggi martabat bangsa dengan mempertaruhkan jiwa raga untuk bangsa. Pemuda tempo doeloe demikian mencintai dirinya sendiri akan tetapi lebih mencintai bangsanya, tidak ingin bangsanya dikoyak "ketidaksenonohan" siapapun di muka pertiwi ini.
Lalu...bagaimana sikap dan sifat para pemuda harapan bangsa era "modern" ini terhadap keadaan dan keberadaan bangsanya? Sesuatu untuk bangsa yang mana dahulu kala sangat diperjuangkan oleh pemuda bangsa Indonesia yang kita banggakan! Memang esensi sumpah pemuda saat ini dan waktu itu (ketika aku seperti pemuda sekarang ini) belum pernah aku sadari dan kuketahui...maksudku mengapa aku tidak sehebat para pemuda jaman dahulu yang rela berkorban untuk bangsa ini, ternyata sama saja aku dan remaja yang mewakili pemuda harapan bangsa ini tidak pernah berbuat banyak untuk bangsa tercinta ini. Lalu...mengapa begitu? Apa karena kebodohan kita atau guru-guru kita tidak pernah mengajarkan rela berkorban untuk bangsa? Bukan sok tahu tapi masih banyak guru-guru yang sudah menjadi pegawai negeri sipil di negeri ini yang bekerja asal-asalan; asal datang, asal ngabsen, asal ngajar, asal marah, asal gajian, asal makan, asal bisa ketawa...dasar gila kali ya...tapi tentu saja tidak ada di sekolahku mereka hanya ada di neraka jahanam!!!
Lalu...mengapa guru-guru honorer sepertinya mati-matian mengabdi, tiada lelah berkerja, mengajar di sekolah sana, di sekolah sini, mengajar eskul itu, eskul ini, jual lks itu, lks ini, buku itu, buku ini, eh...weleh...weleh... dasar bodoh ternyata gaji guru honorer hanya cukup untuk beli isi ulang telepon cellular, lalu...ongkos bolak-balik naik angkot bagaimana? makan siang bagaimana? beli rokok dan kopi, bayar utang biaya hidup sehari-hari? uang jajan anak istri? bayar kontrakan rumah? belum lagi hobby maen burung dan memancing ikan sambil berjudi!! Ternyata berat perjalanan hidup mereka...dan aku juga termasuk didalamnya kali?
Lalu...mengapa tidak seperti pemuda jaman dahuulu itu? Nah itu dia yang tidak kuketahui mengapa! Gaya hidup yang individualistis mungkin penyebabnya! Kemiskinan mungkin penyebabnya! Kebodohan mungkin penyebabnya! Ya...kalau sudah individualististis, miskin, bodoh...masa sih? Kan yang kuceritakan adalah guru! bukankah mereka berpendidikan tinggi serendah-rendahnya D1, banyak yang S1, S2, bahkan ada yang S3! Lalu...mengapa begitu? Dasar bodoh ternyata mereka itu GOBLOK!! Tapi tidak ada di sekolahku, mereka hanya ada di neraka jahannam...huh mengerikan!
Kalau begitu siapa yang akan meneruskan perjuangan para pemoeda harapan bangsa tempo doeloe itu? Dasar bodoh aku tidak pernah tahu.....
20080921
SMA Pasundan 5 Bandung pada piala CocaCola
Langka pasti menyertai keberangkatan team footsal piala cocacola SMA Pasundan 5 Bandung ke Jakarta, teriring do'a restu dari semua pihak yang mencintai SMA Pasundan 5. Meski datang tak sehebat sekolah-sekolah (finalis) lain dari berbagai kota di jawa barat, Banten dan DKI kami yang berangkat dengan menggunakan bus non AC sedikit berdesakan namun tetap bahagia bisa berbagi canda tawa selama perjalanan. Akhirnya pulang dengan membawa hadiah sebesar Rp. 5.000.000,00 dengan medali perungu tergantung di leher para pemain dan offisial team kami pulang dengan girang, penuh riang canda penat dan peluh seakan tak terasa saking puas walau hanya menduduki posisi keempat dari target yang tidak ditargetkan, dari target mimpi bisa pergi ke Jakarta.
Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami berikan kepada seluruh civitas akademika SMA Pasundan 5 Bandung, yang telah mencurahkan seluruh daya upaya untuk dapat menjadi yang terbaik...(iwan pazma)
Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami berikan kepada seluruh civitas akademika SMA Pasundan 5 Bandung, yang telah mencurahkan seluruh daya upaya untuk dapat menjadi yang terbaik...(iwan pazma)
Langganan:
Postingan (Atom)
